Selasa, 04 November 2014
Senin, 08 April 2013
Untuk apakah berpindah ketempat yang sama-sama terlarang?
call me maudlin! but im really crying (again) at this moment. and i fucked up my life!
Hampir dua tahun aku mencintai orang yang salah. Laki-laki yang jelas-jelas tercipta jauh dari takdirku, meskipun takdir yang kumaksud adalah hanya sebentar saja 'bertengger' di hidupku. Laki-laki dengan beribu perbedaan. Ya, jika kau akan berkata 'perbedaan itu ada untuk saling melengkapi', simpan dulu kata-katamu itu. Sungguh, dalam kasusku ini, perbedaan ini memang jelas-jelas Dia berikan untuk menyadarkanku 'dia' adalah Mr. Wrong. Tapi aku pun selama ini tak pernah lelah, masih saja berusaha menyangkalnya. Berharap.. berharap... terus berharap matahari mau menjadi milikku. Lalu lagi-lagi kecewa.
Tapi hari ini aku bukannya ingin bercerita tentang si bajingan ,Mr. Wrong, yang telah mengubah hidupku, itu. Kali ini aku akan bercerita tentang lelaki lain. Sebuah bintang lainnya, yang lagi-lagi masih terlalu terang untukku. Entahlah, dia justru lebih terang dari matahariku, atau mungkin juga lebih redup tapi belum cukup redup untukku yang mungkin memang ditakdirkan bersama kegelapan.
Bintang baru ini berbeda dengan matahari, amat jauh berbeda. Si Bintang bukan tipe penerang yang setia, dia bahkan tanpa rasa bersalah bergantian menyandarkan hatinya pada beberapa bidadari angkasa. Tentu aku bukan salah satunya. ingat aku jelas bukan seorang bidadari, aku hanya seorang pengais cinta, yang berharap dapat menemukan celah kecil dari sisa-sisa cinta. Si Bintang hanya seorang temanku, yah walau bisa dibilang dia teman yang cukup dekat denganku. Bercanda bersama, sudah biasa. Tertawa hingga terpingkal-pingkal, ah, itu sudah rutinitas kami. namun justru kedekatan ini membuatku khawatir. Kau tahu? Aku memang butuh seorang sandaran baru agar aku dapat melepaskan matahariku. Namun, untuk apa bila sandaran yang kutemukan adalah sandaran tak setia yang hanya menganggapku kawan bercanda. Terbayang olehku suatusaat nanti, atau segera, aku akan terjatuh dari sandaranku lalu lagi-lagi merasakan sakit. Sandaran yang jauh berbeda, namun tetap akan memberikan efek yang sama, terjatuh, merana, sengsara. dan nantinya harus melompat mencari hati yang bisa kusinggahi.
Sudah 2 kali aku katakan mereka berbeda jauh, namun perlu kau tahu, mereka juga memiliki persamaan yang jelas-jelas bagaikan minyak dan air denganku. batas yang dibuat sendiri oleh masyarakat dunia untuk berbagi cinta. ah, kau benar, ini soal kepercayaan. bullshit dengan semua itu. Untuk apa adanya kepercayaan-kepercayaan itu bila hanya untuk memecah belah dunia? hah?
Sudah cukup semua ini.. yah, aku lelah, sungguh lelah. Terlarang! ya itu kata yang tepat menggambarkan macam cinta yang aku rasakan. f-ck!
Tapi sudahlah, tak ada yang bisa kuubah dari itu semua. Aku hanya bisa membatasi diri agar tak masuk kelubang perbedaan itu bukan?
Oke, kembali bercerita tentang Si Bintang Playboy ini, Aku terlalu takut jatuh cinta pada hati yang salah. Yang jelas-jelas hanya akan membuangku. Ah, sungguh perih kisah yang aku alami. Kumohon, seseorang, mungkin mau membantuku menemukan jalan menuju hati yang benar, atau paliing tidak keluar dari jalan yang salah ini dulu. Aku terlalu lel.ah
Hampir dua tahun aku mencintai orang yang salah. Laki-laki yang jelas-jelas tercipta jauh dari takdirku, meskipun takdir yang kumaksud adalah hanya sebentar saja 'bertengger' di hidupku. Laki-laki dengan beribu perbedaan. Ya, jika kau akan berkata 'perbedaan itu ada untuk saling melengkapi', simpan dulu kata-katamu itu. Sungguh, dalam kasusku ini, perbedaan ini memang jelas-jelas Dia berikan untuk menyadarkanku 'dia' adalah Mr. Wrong. Tapi aku pun selama ini tak pernah lelah, masih saja berusaha menyangkalnya. Berharap.. berharap... terus berharap matahari mau menjadi milikku. Lalu lagi-lagi kecewa.
Tapi hari ini aku bukannya ingin bercerita tentang si bajingan ,Mr. Wrong, yang telah mengubah hidupku, itu. Kali ini aku akan bercerita tentang lelaki lain. Sebuah bintang lainnya, yang lagi-lagi masih terlalu terang untukku. Entahlah, dia justru lebih terang dari matahariku, atau mungkin juga lebih redup tapi belum cukup redup untukku yang mungkin memang ditakdirkan bersama kegelapan.
Bintang baru ini berbeda dengan matahari, amat jauh berbeda. Si Bintang bukan tipe penerang yang setia, dia bahkan tanpa rasa bersalah bergantian menyandarkan hatinya pada beberapa bidadari angkasa. Tentu aku bukan salah satunya. ingat aku jelas bukan seorang bidadari, aku hanya seorang pengais cinta, yang berharap dapat menemukan celah kecil dari sisa-sisa cinta. Si Bintang hanya seorang temanku, yah walau bisa dibilang dia teman yang cukup dekat denganku. Bercanda bersama, sudah biasa. Tertawa hingga terpingkal-pingkal, ah, itu sudah rutinitas kami. namun justru kedekatan ini membuatku khawatir. Kau tahu? Aku memang butuh seorang sandaran baru agar aku dapat melepaskan matahariku. Namun, untuk apa bila sandaran yang kutemukan adalah sandaran tak setia yang hanya menganggapku kawan bercanda. Terbayang olehku suatusaat nanti, atau segera, aku akan terjatuh dari sandaranku lalu lagi-lagi merasakan sakit. Sandaran yang jauh berbeda, namun tetap akan memberikan efek yang sama, terjatuh, merana, sengsara. dan nantinya harus melompat mencari hati yang bisa kusinggahi.
Sudah 2 kali aku katakan mereka berbeda jauh, namun perlu kau tahu, mereka juga memiliki persamaan yang jelas-jelas bagaikan minyak dan air denganku. batas yang dibuat sendiri oleh masyarakat dunia untuk berbagi cinta. ah, kau benar, ini soal kepercayaan. bullshit dengan semua itu. Untuk apa adanya kepercayaan-kepercayaan itu bila hanya untuk memecah belah dunia? hah?
Sudah cukup semua ini.. yah, aku lelah, sungguh lelah. Terlarang! ya itu kata yang tepat menggambarkan macam cinta yang aku rasakan. f-ck!
Tapi sudahlah, tak ada yang bisa kuubah dari itu semua. Aku hanya bisa membatasi diri agar tak masuk kelubang perbedaan itu bukan?
Oke, kembali bercerita tentang Si Bintang Playboy ini, Aku terlalu takut jatuh cinta pada hati yang salah. Yang jelas-jelas hanya akan membuangku. Ah, sungguh perih kisah yang aku alami. Kumohon, seseorang, mungkin mau membantuku menemukan jalan menuju hati yang benar, atau paliing tidak keluar dari jalan yang salah ini dulu. Aku terlalu lel.ah
Minggu, 24 Maret 2013
Memang Harus Melepas Matahari
Semoga engkau akan membacanya, dan semoga kau mengerti...
Dulu aku pernah menulis sebuah sajak tentang sosok matahariku. Tentang matahari yang pergi dan dingin kepadaku yang mengharap cintanya. Namun tahukah kau, gambaran matahari yang kubuat itu untuk melambangkan sosokmu? Namun kini setelah kupikirkan kembali sajak itu, ternyata aku keliru. Tunggu, maksudku bukan salah melambangkanmu sebagai matahari, buan juga salah menuliskan sikap matahari, matahari memang begitu padaku. Hanya saja setelah melalui waktu yang cukup panjang--yang bukannya memperbaiki keadaan, namun justru semakin mengacaukannya--, kini aku menyadari arti lain dari menganggapmu sebagai matahari yang mati, kini yang harus ku sadari; kau adalah bintang yang sayangnya bukan tercipta untukku. Bukankah matahari juga bintang? Memang, justru itu, aku memang tak mengubah artimu, bagiku kau tetap bintang yang begitu besar dan terang. Karena itulah, lagi-lagi bagiku, aku layak menyebutmu matahari. Dari situlah selama ini kau kuanggap seperti raja langit itu. Namun lagi-lagi harus kukatakan, kau adalah matahari --atau bintang, atau entah apa yang harus kusebut-- yang nyatanya bukan tercipta untukku. Kenyataan pahitnya kau terlalu terang untukku, yah, alih-alih menerangi kegelapanku, dirimu justru membakar dan melukai setiap jiwa dan hatiku.
Selama ini aku selalu menahan perihnya mencintaimu--mengikutimu, mencoba membahagiakanmu ,menunggumu, memandangmu-- mencoba menyangkal bahwa kau terlalu 'terang' untukku, sambil dalam hati berharap aku bisa mengimbangi silaunya dirimu, namun sayang, aku bahkan tak berhasil meraih apapun. Cintamu? Bah! Kau bahkan tak membiarkanku mencicipinya barang sedetik saja. Lalu apa yang kudapat dari perjuangan cintaku slama ini? Nihil! Tak ada apapun kecuali perih, cemburu, 'gosong', terbakar, dan luka yang sepertinya terlihat tak mungkin sembuh. Bila kau bertanya apa aku marah? Aku akan balik bertanya, apa mungkin dalam posisiku ini aku tidak marah? Tapi tidak, ternyata rasa cintaku padamu mampu membuatku buta, hingga membuat akal sehatku sendiri bertanya-tanya bagaimana bisa aku masih mencintaimu meski telah ratusan kali kecewa?
Aku sudah berusaha berkali-kali menghindarimu, mencoba mencari hujan atau badai yang akan membuatku beristirahat dari lelahnya mencintaimu. Tapi lagi-lagi kau colek diriku, membuatku kembali menghangat lalu lagi-lagi terbakar perih. Seolah-olah kau tak rela melepas mainan atau boneka kecil yang dengan bodohnya tetap terpukau dan mengikuti semua maumu. Entah sengaja atau tidak, lagi-lagi kau membuat aku kembali padamu. Mengantri cinta yang tak mungkin kudapatkan, karna sesungguhnya jatahku hanyalah 0 besar, ya, nol besar. Kadang aku berfikir, mungkin perhatianmu padaku sebenarnya hanya bentuk perhatian yang kau ungkapkan untuk seorang adik matahari, atau mungkin murid matahari, yang kau sayangi tapi tak mungkin kau percayakan cinta? Tapi hei! Aku bukan anak kecil lagi! Aku sudah banyak belajar tentang rasa cinta, tentang bagaimana merasakannya, meski semua berujung pada kesedihan. Lagipula mana bisa aku merasakan hangat sinarmu yang terporsi untuk seorang adik --atau murid-- bila yang kuharap adalah cinta. Aku hanya mampu menyerap cinta darimu, dan karna nyatanya tidak ada jatah untukku, maka yang kudapat hanya perih. Yah, kau memang tak mengerti aku, dan aku juga tak akan menyangkal lagi, aku pun tak mengerti sedikitpun tentangmu, meski selama ini aku mencoba meyakinkan diriku, aku selalu mengerti dirimu. Namun nyatanya tidak bukan? Mana mungkin kau tak peduli kan cinta ku bila aku telah mengertimu. Maka dari itu, kini aku elukan, aku pun tak mengertimu sama sekali.
Karna segala hal itulah, kini aku akan katakan padamu, aku akan melepas matahari, melepas harapanku, melepas cintaku, melepasmu... Kali ini aku akan kembali menghindari berkas sinarmu. Memayungi diriku sendiri dengan kegelapan, sedih memang, tapi lebih baik daripada merasakan panasnya cahayamu yang menusuk setiap inchi jiwaku. Aku akan kuburkan cintaku di dalam tanah, dan tak lupa juga kugunakan peti mati untuk tempatku berbaring, begitu rapat agar tak lagi ada sedikitpun sinarmu yang jahil mencolekku. Lagipula kau tak akan merasa kehilangan, bukankah ada setangkai bunga ditempat lain yang juga merasakan cahayamu wahai raja langit, tapi berbeda denganku, yang bunga itu rasakan justru kehangatan. Tapi aku? Bah! Sekali lagi ku katakan agar kau mampu mengingatnya, hanya perih yang kucecap. Selama ini tlahku lakukan segalanya dan korbankan hati yang kupunya untuk mendapat cahaya cinta darimu, tapi seperti yang kubilang, aku tak mendapat cintamu, wahai bintang yang terlalu terang. Sedangkan bunga itu cukup tersenyum dan melambaikan tubuhnya saja sudah mampu membuatmu terlena. Maka itulah kini aku yakin, sudah saatnya aku melepasmu pergi, melepas perihku, melepas segala kenangan tentangmu, melepas impian bersamamu, melepas matahari. Biarkan aku menangis, bintang. Agar segala lukaku dapat kubasuh dengan airmataku. Jangan juga kau goda aku dengan sinar senter yang kau arahkan padaku untuk mencoba menipuku, seolah kau beri sinar cintamu, padahal jelas-jelas cintamu telah habis untuk bunga itu. Ah, bukankah seharusnya aku tak perlu khawatir, bukankah tadi kukatakan akan kututup diriku rapat-rapat, jadi sinar senter palsu sialan itu tak akan bisa menyentuhku. Jadi, biarkan aku menutup diri darimu! Biarkan aku bersembunyi pada malam, hingga nanti aku akan kembali menyapa pagi--saat dimana kau akan terbangun dari tidur mu-- saat rasa ini telah mati.
Senin, 06 Agustus 2012
Embun dan Bintang
Tubuhku membeku ketika mataku menangkap sosok itu. Sosok yang kurindu sekaligus ingin kuhapus dari kenanganku yang telah terlanjur abadi. Sosok yang kini mulai melangkah mendekat, perlahan namun tegas. Hingga tanpa sadar aku mulai melangkah mundur. Aku belum siap bila harus kembali menatap wajah itu setelah lebih dari 1 tahun aku mencoba mengusir bayangannya, meski berakhir dengan hanya menyembunyikan sosoknya dibalik ingatanku yang lain. Namun kini tak lebih dari 1 detik, lelaki itu kembali mengusik sanubariku.
“Hai, Embun kan? Masih ingat sama mas ga?” suaranya yang khas masih sama seperti dulu, hanya saja kini terdengar lebih ceria. Tak lagi sendu seperti saat pertama kami bertemu. Perawakannya pun kini terlihat lebih tegas. Ah, mungkin kini Mas Bintang telah hidup bahagia dengan Mba Sinta. Perih mulai menyelimuti perasaanku begitu kenangan itu kembali terputar dalam benakku, seolah seperti drama panggung yang kembali dimainkan.
“Eh, kok melamun sih? Benar sudah lupa ya sama Mas Bintang?”
Mana mungkin aku lupa, mas! Hatiku kecilku berteriak tegas. “Maaf, mas, tadi memang aku sempat lupa, habis sekarang Mas Bintang berbeda sekali sama dulu.”
“ Ah, masa sih? Mas Bintang ga banyak berubah kok. Kamu tuh yang banyak berubah, sekarang sombongnya minta ampun.”
“ Sudahlah, ndak perlu dibahas, mas. Gimana kabarnya Mba Sinta, mas?” Nyeri kembali merasuki hatiku, entah mengapa justru pertanyaan bodoh itu yang kulontarkan, pertanyaan yang jelas-jelas akan kembali membuka luka lamaku lagi.
“ Baik-baik aja ko, ndut. Lah kamu gimana? Udah SMA ni ye? Gimana rasanya jadi anak SMA? ”
“ Biasa aja, mas. Sama aja kaya waktu SMP dulu.”
“ Gitu ya. Eh, Embun masih suka bikin puisi ga?” Aku terperanjat seketika mendengarnya. Sudah 6 bulan aku meninggalkan hobiku membuat puisi. Dulu Mas Bintang yang mengenalkan puisi padaku. Atau dengan kata lain Mas Bintang yang membawaku menemukan jati diriku. Namun demi berusaha melupakan Mas Bintang aku harus merelakan cita-citaku menjadi penyair.
“Udah ga suka, mas.”
“Loh, kenapa, ndut? Padahal dulu kan kamu suka banget mbikin puisi. Kita juga sering baca puisi bareng kan. Hahaha.. Mas jadi nostalgia nih.”
“Udahlah, mas, ga usah bahas yang dulu-dulu. Aku dah ga mau inget-inget lagi, mas.”
“Embun masih marah ya soal yang dulu? Mas bukannya ga suka sama Embun. Cuma kan kita bedanya banyak banget, mbun. Mas ga……”
“Cukup, mas. Embun bukan marah. Embun cuma capek. Embun dah berusaha nglupain Mas Bintang tapi sekarang Mas Bintang dateng lagi seolah ga pernah ada apa-apa dan bikin semua luka Embun sakit lagi, mas.” Aku mulai terisak. Sesak kembali meliputi setiap bagian jiwaku. Semua kenangan itu kembali kuingat. Air mataku telah merebak.
“Maafin mas, mbun.” Mas Bintang mengeluarkan sapu tangan dan mengulurkannya padaku.
“Yang luka itu hati aku, mas. Saputangan ini ga bisa mbantu apa pun.” Aku tak kuat lagi menahan semua rasa ini, malu, marah, takut. Kuambil langkah seribu, meninggalkan Mas Bintang yang hanya diam terkejut menerima reaksiku. Satu detik kemudian terdengar langkah kaki Mas Bintang yang mulai mengejarku. Sekuat tenaga aku mempercepat langkahku. Suara anginpun terdengar kencang ditelingaku. Namun setelah itu yang kudengar hanya teriakan Mas Bintang yang menyebut namaku dan sura decit mobil. Lalu semuanya gelap.
Aku berputar dalam gelap
Hanya kekosongan yang kutangkap
Hampa
Sesekali suara lelaki itu masih terdengar menyerukan namaku
Namun tanpa bisa berkutik aku hanya terpejam
Beku menguasaiku
Lalu selanjutnya diam, tanpa suara
Hingga cahaya putih berebut menyerbu tubuhku
“Embun, bangun. Bangun, Embun.”
Wajah Mas Bintang menyambutku. Mataku menyipit berusaha mengatur cahaya silau yang menyerbu masuk. Mas Bintang memelukku. Ada kehangatan saat tubuh Mas Bintang menyentuh tubuhku. Aku rindu saat-saat ini. Andai Mas Bintang tercipta untukku. Andai Mas Bintang dan aku tak berbeda dalam banyak hal. Setiap detik ini aku nikmati, andai waktu berhenti saja.
Tiba-tiba perih menyerang kepalaku, seperti dipukul dengan kayu, pening. Dan kembali gelap yang kutemukan.
Lalu secercah cahaya indah berkelip
Bintang itu bersinar terang
Mengusir gelap yang tadi mencekam
Kehidupan telah direnggut dariku
Namun aku tak sendiri
Bintang itu menemaniku disini
Dan aku pergi dalam peluknya
Begini sudah cukup
Terima kasih, Bintang
Meski hanya beberapa detik kesempatan yang ada
Paling tidak sempat kurasakan cahayamu
Bintang…
Langganan:
Postingan (Atom)

